Langsung ke konten utama

Karena Selera Musik = Makan



Yang mau di bahas kali ini adalah musiknya, bukan makannya. Kenapa musik sama dengan makan? Karena ini adalah masalah selera. Selera musik saya tidak mungkin sama persis dengan selera musik randomers sekalian. Disclimernya adalah saya bukan orang yang paham tentang dunia permusikan, hanya seorang yang menyukai musik.

Pastinya musik pertama yang saya dengarkan adalah pengaruh dari orang tua. Pastinya dimasa kecil saya mendengarkan musik 80-90an terutama musik dari dalam negeri. Jenis musik yang terdengar sayup-sayup saat itu bergenre pop. Yang menyenangkan pada saat kecil adalah dibangunkan dengan musik, bukan malah bangun tapi malah lanjut tidur sambil menikmati musik yang diputar di rumah pada waktu itu. 

Masa kecil generasi saya masih banyak lagu anak-anak, dari Bondan Prakoso, Agnes Mo, Trio Kwek Kwek, Susan & Ria Enes, dan masih banyak lagi. Beranjak dewasa dan sampai saat ini Lagu Sheila On 7 masih selalu menemani. Band yang berasal dari Jogja ini masih jadi favorit playlist yang saya follow di spotify.

Semasa sekolah saya baru menikmati musik-musik dari musisi luar negeri, seperti RHCP, Avril Lavigne, Linkin Park, Weslife, dan masih banyak lagi. Kesimpulannya genre yang saya nikmati bertambah menjadi rock. Uniknya begitu pindah ke Jogja saya mengalami culture shock terutama dari musik. Norak memang, orang pinggiran ibu kota pindah ke Jogja malah gegar budaya. Di kampus genre berbagai macam musik bisa saya bilang berkumpul disana, punk, metal, blues, jazz, dangdut, dan masih banyak lagi. Tapi tetap pop & rock masih selalu bisa dinikmati.

Era sekarang dengan IDM dan lain sebagainya saya belum bisa menikmatinya sampai sekarang. Yah mungkin hanya beberapa lagu saja dan belum jadi pilihan utama untuk didengarkan. Sah ya? Harusnya sah-sah saja karena ini selera. Sama halnya dengan pilihan kopi. Sobat Wak Bing juga punya selera kopi yang berbeda. Yang tidak terlalu suka pahit pasti memilih arabica, begitu pula sebaliknya. Yang suka kopi manis pasti memilih es kopi susu special kami. Kalau kopi favorit saya yang jelas rasanya samar-samar rasa buah atau fruty-fruty.

Jadi randomers, apa dulu kamu anak band?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gimbal Tak Sederhana Dan Lama

Ceritanya pada tahun 2009. Setelah 2 tahun tinggal dan kuliah di Jogja beserta penghuni kampus FISIP Atma Jaya Yogyakarta tercinta akhirnya mulai punya banyak teman. Kampus FISIP tergolong kampus dengan mahasiswa terrandom dibandingkan dengan fakultas-fakultas lainnya. Disana banyak ditemui mahasiswa yang cukup unik, aneh, bin ajaib. Saya salah satunya yang terkontaminasi kerandoman ini. Awal menginjakan kaki di kampus, saya terheran-heran dengan situasi pada masa itu (2007). Mulai dari kuliah dengan seadanya, kaos, sandal jepit, celana jeans yang sudah sobek-sobek bagian lutut, rambut gondorng, keribo, sampai gimbal bisa saya temu sejauh mata memandang. Rupa-rupa lah warnannya. Singkat cerita saya memutuskan untuk menggimbal rambut saya yang sudah 2 tahun tidak saya potong sejak lulus SMA. Rambut yang banyak diberikan pujian oleh para mahasiswi yang konon katanya mereka iri dengan rambut yang hanya menggunakan sampo untuk perawatannya ini, tidak akan lagi membuat para w...

Ada Kamar Kosong

Sebelumnya saya ucapkan maaf sekali, yang pertama lama sekali gak menulis blog yang super random, yang kedua sekalinya posting konten ini adalah konten jualan. Maaf yes! Beberapa waktu yang lalu saya pernah menulis,  MIMPI JADI BAPAK KOS . Nah! Kali ini mungkin udah resmi jadi bapak kos beneran. Setelah menunggu sekian lamanya, akhirnya kos ini sudah siap dihuni. Kos yang berdiri di daerah Maguwoharjo ini berada di tengah perumahan   Griya Grogol Asri   Blok B8, Grogol, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta. Kos yang diberi nama RA Kost ini diambil dari inisial nama depan dan tengah adik saya yang kebetulan sama. Nyebelinnya ternyata nama RA Kost sendiri sudah banyak di pakai oleh kos-kos lain yang tentu saja berada di luar Jogja. Yah nanti coba kami cari nama yang lebih oke. Konsep RA Kost memiliki fasilitas kamar mandi dalam dengan kloset duduk, token listrik dimasing-masing kamar, AC, kasur spring bed, meja, kursi, dan lemari. WIFI-nya mana? Nah! Semua warga peru...

Warung Makan Kaki Lima

Pasti randomers gak asing dengan tempat makan kaki lima, setiap daerah pasti ada pedagang kaki lima yang menjajakan makanan. Konon kabarnya, kemunculan warung tenda di pinggir jalan makain merebak setelah era krisis moneter yang dialami Indonesia tahun 1998. DI Yogyakarta punya segudang kuliner yang berjualan di pinggir jalan dan bahkan bisa dikatakan ramai pengunjung. Selain itu sudah ada juga yang di berikan label “Kuliner Lagend”. Salah satu sudut kota jogja yang diramaikan dengan warung tenda kaki lima berada di Jalan Kaliurang, sekitar UGM.  Kalau boleh dikatakan, hampir di sekitar kampus sangat banyak warung tenda kaki lima yang jadi favorit para mahasiswa yang tinggal di daerah seputar kampusnya. Mulai dari pecel, mie ayam, penyetan, dan masih banyak lagi. Termasuk kuliner kekinian, mulai dari yang serba pedas, berkeju, goreng-goreng, sampai bakar-bakaran pun ada.  Saat ini banyak juga para mahasiswa yang juga belajar untuk memulai bisnisnya sendiri dimulai dari pedagan...